“iya, hati-hati di jalan ya nak..” balasnya dengan penuh sayang. Aku tersenyum padanya kemudian mengucap salam. Kulangkahkan kakiku menuju kampus hijauku. Untuk sampai kesana, aku harus berjalan sejauh kurang lebih 2 km. Melewati gang-gang kecil, berjalan di pinggir kanal yang airnya sudah seperti susu coklat. Sangat kotor. Kalau musim hujan tiba, bau yang menyengat dari air kanal itu menemaniku sepanjang jalan. Dan sepanjang jalan itu pula aku menahan nafas karena tak tahan dengan baunya. Bau itu berasal dari sampah-sampah yang sangat banyak, bertumpuk di sana bertahun-tahun hingga menimbulkan bau yang Astaghfirullah, potret budaya masyarakat Indonesia yang sulit untuk di rubah. Tanah yang becek juga menjadi altar yang harus aku lalui, membuat sepatuku penuh lumpur yang berwarna kecoklatan. Aku harus membersihkannya sebelum memasuki gerbang kampus kalau tak mau di perhatikan orang sekampus. Dan hal itu kulakukan tiap hari demi menghemat biaya. Kadang, hati ini berontak. Tak kuat lagi menghadapi semuanya. Aku tahu ini belum seberapa dibanding dengan pengorbanan yang harus Ayahku tanggung demi mengecap manisnya pendidikan dulu. Beliau harus menjadi kuli bangunan dan kuli panggul, bahkan beliau harus berkeliling kampung sambil berjualan es sepulang sekolah demi membayar biaya sekolah. Tapi aku sungguh tak bisa menyamai ketegaran dan tekad yang dimiliki Ayahku.
Sebenarnya, uang yang dikirim orangtuaku tiap bulan cukup untuk membiayai transportasiku tiap hari tapi aku memilih untuk berjalan karena aku ingin merasakan walau sedikit pahit manisnya berkuliah seperti yang Ayahku rasakan dulu.
Perumahan kumuh di pinggir kanal juga menjadi pemandangan yang disuguhkan untukku. Aku selalu bertanya dalam hati, kenapa mereka memilih membuat rumah di kota padahal mungkin saja, kehidupan mereka di tempat asalnya jauh lebih layak dari sekarang.
Anak-anak kucel, dekil, dan bau yang saling berkejaran selalu menjadi pengiringku. Ada juga yang melemparkan senyum padaku. Mereka tampak bahagia bermain di tengah-tengah tumpukan sampah. Aku selalu membalas senyum mereka. Alasannya bukan saja karena kewajiban tapi juga takut mereka akan menyerangku tiap kali lewat di jalan mereka. Yang aku tahu, anak-anak seperti mereka, lebih nakal dan lebih tidak punya etika dibanding anak-anak pada umumnya, hal itu disebabkan kurangnya pendidikan mereka dan tentunya pengaruh lingkungan yang keras.
***
Awan gelap telah mengurung langit di atas sana saat aku hendak kembali ke rumah. Dengan langkah yang cepat, aku menyusuri jalan yang sudah aku hafal betul letaknya. Dalam hatiku terus mengucap doa agar Allah menunda 5 menit dulu menurunkan hujannya. Tapi, aku rasa Allah tak mendengar doaku itu. Gerimis mulai membuat titik-titik di jilbab hijau yang kukenakan. Aku mempercepat langkahku walau aku tahu itu akan sia-sia karena rumahku masih jauh dari kata dekat. Tak kuperdulikan lagi Lumpur yang mengotori kaos kakiku yang putih. Yang kutahu sekarang, aku hanya mencoba untuk berlomba dengan hujan untuk segera sampai di rumah. Tapi itu mustahil karena sekarang, hujan turun dengan derasnya. Akupun berlari untuk mencari perlindungan. Aku berteduh di warung gorengan yang selalu aku lewati. Karena tempat ini adalah yang terdekat untuk aku capai di tengah guyuran hujan sore ini. Tiap melewati warung ini, hatiku selalu bergumam.
“Aku tak akan membeli makanan disini”
Adonan yang terlihat sangat menjijikkan dan lalat-lalat yang selalu lebih dulu menyicipi makanan disitu yang membuatku berpikiran seperti itu.
Aku hanya berdiri. Tak berani untuk duduk di bangku mereka karena aku hanya menumpang teduhan, bukan untuk membeli makanan mereka. Aku memperhatikan seorang kakek pemilik warung itu yang sedang bercanda bersama cucunya dan anaknya yang sedang sibuk menggoreng. Mereka terlihat bahagia. Sudah cukup lama aku berdiri disini, tapi hujan tak juga kunjung reda.
“Kamu tidak capek nak? duduk saja disitu.” Kakek itu menunjuk bangku yang tak jauh dariku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“iya..” jawabku. Aku masih belum duduk juga, aku masih gengsi. Tapi, beberapa menit kemudian, kakiku pegal juga berdiri lama, akupun duduk disitu. Aku kembali memperhatikan mereka. Kakek itu sekarang sedang mangayun cucunya sambil menyanyikan lagu nina bobo. Aku tersenyum. Aku teringat kembali akan hari-hari yang lalu, tiap lewat sini, aku selalu pura-pura sibuk dengan urusanku sendiri. Malas untuk melempar senyum. Aku malu pada diriku sendiri karena walau kuperlakuan begitu, mereka tetap mau memberiku tempat untuk berteduh dan bersikap baik padaku. Mereka bisa saja mengusirku dari sini jika mereka mau. Aku malu untuk berteduh dibawah tenda warung ini. Sungguh.
Ditengah rasa maluku itu, aku memperhatikan anak-anak kecil yang sudah aku hafal wajahnya. Mereka yang selalu melempar senyum padaku. Mereka sedang bercengkrama dengan hujan. Berkejaran di tengah hujan yang menyiram bumi. Tertawa lepas. Aku kembali teringat masa-masa kecilku dulu. Aku juga suka bermain di tengah hujan seperti mereka. Aaaaahh, aku rindu suasana itu. Ditengah hayalanku, tiba-tiba seorang gadis kecil datang menghampiriku sambil menenteng payung.
“Kak, mau aku antar pulang? Aku punya payung, jadi kakak tidak akan basah” dia tersenyum polos padaku. Terharu. Ya, aku sangat terharu. Aku menatapnya. Mata hatiku yang menatap. Aku tersenyum. Kubelai rambut yang basah gadis kecil itu. Hatiku bergetar. Mataku sudah berkaca-kaca tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku menundukkan badanku, menyejajarkan dengan tubuhnya yang mungil.
“Nggak usah dek, kakak bisa naik becak” ucapku sambil mengambil beberapa permen dari dalam tas, aku sangat suka mengunyah permen oleh karena itu, tasku tak pernah kosong dengan permen, kemudian memberikannya pada gadis itu. Dia tersenyum bahagia lalu kembali ke teman-temannya untuk berbagi di tengah hujan. Untuk beberapa saat aku memperhatikan mereka. Hatiku ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka. Seketika, anggapanku yang mengatakan bahwa mereka, anak-anak pinggiran, adalah anak-anak yang tidak punya etika, berubah. Belum tentu mereka, anak-anak orang kaya akan mau menghampiriku dan menawariku payung seperti tadi. Mereka lebih mementingkan urusan mereka sendiri.
Aku segera memanggil becak yang lewat di depan warung itu. Aku meminta diri dari kakek pemilik warung dan anaknya.
“Aku pulang dulu ya, makasih banyak..” mereka membalasku dengan senyuman.
Aku menaiki becak itu setelah memberitahu alamatku. Selama di dalam becak, aku bisa merasakan bagaimana susahnya para tukang becak mengayuh kendaraan beroda tiga itu. Aku pernah mencoba untuk mengendarainya dengan meminjam becak milik tetanggaku dan itu sangat sulit. Butuh kekuatan untuk menyeimbangkan becak itu, apalagi di tambah beban manusia. Jalan yang berlubang dan rusak akan menjadi beban tambahan untuk mereka. Aku pernah membaca buku yang mengatakan bahwa para tukang becak itu sebenarnya bersedakah untuk kita, dengan tenaga mereka. Aku setuju dengan itu.
Setibanya di rumah, setelah mengganti pakaianku yang basah, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang kini sudah agak reda dan mengingat kembali semua yang kualami tadi. Pengalamanku hari ini benar-benar membuka mataku, bahwa tawa diciptakan bukan hanya untuk mereka yang “kaya”, bahagia juga diciptakan untuk mereka yang “tidak” kaya.
Dan kini aku sadar, Allah bukan tidak mendengar doaku, Dia menjawabku dengan memperlihatkan semua yang tak pernah aku lihat lewat mata telanjang. Hujan memang selalu membawa berkah.
Mulai sekarang, Ayah, Ibu, semua orang yang menyayangiku aku tidak akan mengeluh lagi tentang hal sepele. Aku akan belajar dengan giat hingga aku menjadi pemimpin Negara kelak dan akan memperhatikan mereka. Mereka yang tak pernah terjamah oleh tangan pemerintah kita saat ini. Untuk kakek pemilik warung, gadis kecil, tukang becak, dan mereka.
Membanggakan kalian. Suatu hari nanti.
Read more...
